Mahasiswiku yang Seksi-seksi
Kalau kebetulan lewat kampus ini , jangan lupa mampir ke fakultas kami. Orang bilang fakultas ini adalah fakultas paling modis di dunia (eh, di kampus ini ding). Saya gak tahu kapan fakultas ini jadi seperti ini. Mungkin keberadaan prodi-prodi umum seperti Ilmu Komunikasi, Psikologi atau sosiologi ikut andil dalam proses ini. Nggak tahu lah awak ini. Yang jelas sejak menginjakkan kaki pertama kali di sini, fakultas ini ya sudah begini ini.
Saya yakin, anda sudah tahu apa yang saya maksudkan dengan modis. Ya, apalagi kalo bukan sebagian mahasiswi yang kalau berpakaian, tidak menyisakan rongga udara sedikitpun disela-sela kain dan kulitnya. Persis kayak stiker yang menempel lekat. Kalau bertemu dengan mereka, anda harus hati-hati. Salah-salah kepala anda terbentur tembok karena terlalu bersemangat memperhatikan mereka.
Saya gak tahu kenapa pemandangan seperti ini tidak berkurang sedikitpun, bahkan makin menjadi-jadi. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari KEM yang melarang mahasiswi berpakaian ketat sampai teguran dosen terhadap mereka secara langsung. Saya mendengar cerita dari mahasiswa, ada dosen senior yang setiap kali masuk kelas dan mendapati mahasiswinya berpakaian ketat, dia selalu istighfar, dan tak lupa memberi ceramah tentang bagaimana seharusnya berpakaian yang baik sebagai seorang muslimah, tentu dengan dalil-dalil Quran.
Coba anda tebak, apa yang dilakukan si mahasiswi? Setiap kali sang dosen masuk, dia pakai rok panjang dengan baju longgar. Begitu kelas bubar, dia buru-buru pulang ke kos, berganti baju ketat, calana pensil, dan kembali melenggang ke kampus, berbaur dengan teman-temannya sesama penggemar calana pensil. Ketika saya konfirmasi langsung ke mahasiswi yang bersangkutan, dia hanya ketawa cekikikan, tanpa beban, tak merasa bersalah sedikitpun. Benar-benar mahasiswi sejati fakultas ini. hahahahha.
Saya sendiri? Tenang, tenang, jangan khawatir, saya gak ikut memandang kok. Serius!!! Jangan curigaan gitu. Cara anda ketawa membuat saya merasa menjadi tertuduh. Saya gak terima! Fitnah itu lebih kejam daripada tidak menfitnah!
Saya suka serba salah. Mau ikut ceramah, ntar dikira ngiri sama Ustadz Uje. Kan gak enak, dikira merebut wilayah orang. Mau diem saja ntar dikira setuju dengan ideologi celana pensil itu. Serba salah kan?
Akhirnya, saya pake cara lain. Ya, tentu cara sosiologi mengkritisi realitas. Saya suka pake perspektif gender berparadigma Frankfurt School. Ha, apa pula itu. Begini, kadang saya memancing mahasiswa untuk membahas masalah ini seperti melalui penelitian sosial atau melalui diskusi kelas. Kebetulan saya ngajar sosiologi budaya, juga sosiologi kritis. Saya ajak mereka untuk berpikir bahwa selama ini mereka terlalu lama berpikir di bawah bayang-bayang pendefinisian lelaki tentang kecantikan. Cantik, menurut definisi laki-laki, adalah kulit putih, tubuh langsing dan seksi, berbody aduhai. Adalah wajar kalau perempuan ingin diperhatikan laki-laki (tentu laki-laki jg sama). Yang mereka lakukan kemudian adalah menundukkan diri dibawah definisi laki-laki tentang kecantikan. Mereka berusaha sebisa mungkin tampil sesuai keinginan laki-laki: modis, seksi, kalau bisa yang terbuka lebih baik.
Setelah itu, saya melontarkan sebuah pertanyaan sederhana: “Apa anda akan terus menundukkan diri anda di bawah definisi laki-laki tentang kecantikan perempuan? Tidakkah Anda ingin bangkit melawan dan mengatakan TIDAK pda definisi laki-laki tentang kecantikan?”
Walaupun tidak pernah saya ucapkan, sebetulnya saya ingin bilang pada mereka, bahwa yang saya katakan dan saya ajak mereka untuk memikirkan, tak lain dan tak bukan adalah ajaran Islam juga. Walaupun tak pernah menggunakan bahasa agama, apalagi bahasa arab, tapi itu Islam juga. Itu Quran juga. Itu Firman Tuhan, cuma pake terjemahan sosiologi, pake terjemahan Frankfurt School, pake penafsiran Herbert Marcuse dengan One Dimensional Man-nya yang bilang bahwa manusia modern telah menjadi manusia yang hanya punya satu dimensi, dimensi afirmasi terhadap sistem. Dimensi yang hilang adalah negasi. negasi terhadap sistem yang memaksa dirinya. Negasi terhadap citra kecantikan yang dipaksakan kepada para perempuan melalui pencitraan lewat iklan dan media populer lainnya.
Tapi lagi-lagi saya kecele. Saya kira mahasiswi-mahasiswi itu akan setuju dengan saya. Yang terjadi malah mereka menggunakan dimensi negasi itu untuk menolak dan mengabaikan kata-kata saya dan menganggapnya angin lalu. Wus wus, bablas angine!. Rek, rek, mbok ya jangan gitu. Orang tua cuma bisa elus-elus dada. Semoga kalian menjadi lebih baik di kemudian hari.

