Islam Kontekstual
Puasa dan Kesalehan Sosial
Ada yang menarik dan penting untuk kita perhatikan pada tatanan keberagamaan di masyarakat kita belakangan ini, khususnya pada tiap datangnya bulan suci ramadhan. Semarak ritual agama tampaknya begitu meriuh redah mewarnai hampir setiap sudut kota pada setiap datanganya bulan suci tersebut, bukan hanya sampai di situ saja, bahkan tayangan-tayangan yang dihadirkan oleh stasiun televisi pun hampir secara keseluruhan seolah begitu bergairahnya menghadirkan tontonan-tontonan Islami. Masyarakat Indonesia kelihatannya begitu menikmati dan menyemarakkan kegiatan untuk mengisi ramadhan dengan berbagai aktifitas bernada religi; dari mulai festival tabuh beduk sampai pusat jajanan berbasis Islam dan sinetron-sinetron religi. Sepintas lalu semua itu menggambarkan masyarakat Indonesia memang telah benar-benar menjalankan sunnah nabi untuk selalu bergembira menyambut datangnya bulan suci ramadhan.
Menariknya, padatnya ragam kegi -atan yang menjejali bualn ramadhan tersebut, tenyata tidak berimplikasi langsung terhadap tatanan keshalehan sosial yang diharapkan. Sering kali ternyata semarak ramadhan tersebut lalu sekonyong-konyong tergilas habis tak tersisa sejalan dengan berakhirnya ra- madhan tersebut. Substansi ramadhan sebagai "bulan pembakar" dan " Bulan pendidikan" bagi kehidupan tampaknya tereduksi hanya pada praksis individualistik yang egois.
Selengkapnya baca di sini
Evolusi Muslim Demokrat
Dalam dunia imajiner Barat, Nusantara lama dikenal sebagai negeri harmonis di tengah perbedaan agama dan budaya. Unik, karena ia negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Ketimbang dunia Islam-Arab yang mudah gelisah dan saling tuduh, dalam lingkungan Islam yang damai, Indonesia sungguh menenteramkan.
Kalau ditimbang secara geopolitik, muslim Indonesia tentu relatif jauh diperhitungkan. Peradaban Barat lama melihat episentrum keislaman ada di lingkaran Timur Dekat (Proche-Orient) dan Timur Tengah (Moyen-Orient), di sepanjang semenanjung Mediterania hingga wilayah Asia Tengah. Meski Islam Melayu sempat mulai dikaji pada abad XIX di Prancis dan Barat secara umum, ia meredup dan baru mulai dilirik kembali seusai Perang Dunia II. Itu pun imbas dari kepentingan Barat terhadap rumpun utama wilayah Timur Jauh (Extrême-Orient) yang kemudian merembet dari Indocina ke kepulauan Nusantara. Simpulnya, Islam-Indonesia ialah peradaban pinggiran.

